Monday, May 25, 2009

Kisah Sa Orang Pengayuh Basikal


kemendungan kota,
namun hujan tiada menitis pula,
gelap separa cerahnya,
tiada tawa yang ceria,
hanya kebingitan kereta...

kemendungan kota,
apakah maunya?,
bingung aku mengamatinya,
dimana ketawa..dimana bual bicaranya,
perhatikan belaka..tilik sedalam-dalamnya,

kemendungan kota,
itulah kenyataan sebenarnya,
berbicara angin berlalu seorang hamba,
datang mengekori jalanan yang tlah dilalui oleh mika,
kusut dan pasrah jelas dimukanya,

kini aku ceritakan kisah sa orang pengayuh basikal pula,
yang hanya bekerja sebagai pemburu Cinta,
hatinya hancur musnah tiada rupanya,
segala bermula kerna makhluk yang paling durjana,
makhluk yang dijaga dengan sepenuh kudrat dirinya,

dibesar dengan penuh manja,
makhluk di lahirkan dengan penuh mulia,
dengan ketelitian serta berjaga-jaga,
bagai menatang minyak yang begitu penuhnya,
namun tiada diduga..babak seterusnya,

bertahun- tahun purnamanya,
berubahlah segala yang tersedia,
berkat usaha si pengayuh basikal..cerdik pandai jadi nya,
berjaya merebut peluang yang tak ternilai dek harta,
maka jadilah seperti yang didoakan oleh si dua,

tamat sudah berkerjayalah pula,
harapan didada berbaloilah apa yang diusaha,
namun tidak sama sekalinya,
"Muttakabir" disangkanya...pulang dengan keangkuhan nista,
seperti meludah kembali apa yang telah disuap olehnya,

ku ujarkan agar usahlah disambungkan oleh nya,
kerna terlalu hina...ter amat hina,
bangsa yang khianat pada amanat Tuhan mereka,
bangsa yang lupa pada apa dipijaknya,
didalam kebingitan itu...air mata menitis diraut wajahnya,

sungguh begitu kisahnya sa orang pengayuh basikal itu tetap harus berjalan...
dan terus berjalan,
hinggalah Allah berikannya kemenangan,
agar dapat merawat jiwanya,
akhirnya..

tidak disini mungkin disana.
kerana Allah itu maha memegang kunci Kebenaran.